[satoe] “Udah siap, Tro?”. “Iya. Bentar lagi kok, Ma”, jawabku dari dalam ruang praktek. Aku sedang menyiapkan beberapa obat standar yang mungkin diperlukan grandma di tanah suci nanti. Ya, tahun ini grandma sudah positif menunaikan ibadah haji. Meskipun nanti disana ada teman-teman sejawat dokter dan tenaga medis yang siap mendampingi jamaah calon haji, tapi Aku tetap merasa perlu menyiapkan beberapa obat sebagai bukti besarnya sayang dan perhatianku kepada grandma. “Apalagi yang belum?”, Ibuku masuk keruanganku untuk memastikan. “Label obatnya, Ma. Biar nanti Grandma nggak salah makan obat”, ujarku sambil terus menulis. “Lho, grandma-mu itu kan udah kayak dokter, Tro. Dia udah hapal obat-obat apa yang harus dia makan kalau penyakitnya kambuh”. “Hahaha. Ada-ada saja Mama ini”. “Ya udah, buruan. Nanti taruh disamping travel bag-nya Grandma ya, biar bisa disusun letaknya”, ujarnya sambil berlalu.
Novel - Burning Memmories [Empat]
[empat] “Sudah Aku putuskan”, kata adik laki-laki ibuku yang tertua sambil berlalu menuju dapur. Sepertinya dia lapar, gumam Ibuku sambil segera menyusul. Apakah orang ini selalu seperti itu, pikirku, lalu melanjutkan bermain seperti anak umur 3 tahun pada umumnya. “Aku tidak akan memaksa karena ini pilihanmu”, kata Ibuku, “Tapi Aku hanya menyayangkannya saja”. “Tidak ada gunanya dipaksakan, Uni”, dia meletakkan gelas minumnya. Aku pikir juga begitu, Ohm. Setahuku Ohm memang tidak punya prestasi yang cukup membanggakan kok di sekolah. Siklus ini mungkin masih berlanjut di keluarga besar Ibuku. Nenek, kakek tiri, kakek original, nenek buyut, kakek spicy, nenek spicy, sepupu nenek, saudara kakek, nenek buyut, mereka semua tidak ada yang benar-benar sekolah. “Aku akan bantu Bapak cari uang”, ujarnya sambil nyengir, lalu tenggelam dalam handuk mandinya. “Apa ini sudah final, Pen?”, tanya Ibuku lagi. tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi hyper-sederhana itu.
Novel - Burning Memmories [Tiga]
[tiga] Tidak ada alasan untuk menundanya lagi. Ini waktu yang tepat untuk lahir. Agar mereka di luar sana segera melihat wujudku yang seutuhnya, dan bukan lagi ilusi. Apakah mereka akan semaput melihatku nanti, Aku tak perduli. “Sudah lahir”, Aku mendengar suara seorang pria muda. Seorang wanita yang nantinya kukenal sebagai Ibuku menitikkan airmata. Mungkin dia masih merasa sakitnya tendanganku tadi ke rahimnya, ketika Aku berontak ingin keluar. Aku menangis, karena ternyata semua orang yang ada dihadapanku tak kukenali sama sekali. Aku menangis lebih keras lagi, karena mereka semua tertawa dan ini tampak sangat menyeramkan bagiku. “Dia lahir ditanggal dan bulan yang sama denganku”, pria tadi berkata lagi dengan riang. Semuanya kembali tertawa. Duabelas hari kemudian pria itu meninggal dunia. Tenang, Aku akan melanjutkan siklus hidupnya.
Novel - Burning Memmories [Doea]

[doea] Ibuku dulu pernah bercerita, dan seringkali bercerita, kalau dia ingin sekali menjadi seorang bidan. Sebagai anak pertama dari sepuluh bersaudara, jiwa penyayang telah mengakar disetiap tindakannya, meskipun sembilan orang adiknya adalah adik yang berbeda ayah. Tapi yang harus ia sadari adalah betapa mahalnya sebuah impian dengan latar belakang orang tua yang pekerjaan dan penghasilannya tidak jelas. Ayahnya——dengan kata lain kakek tiriku——hanyalah seorang buruh bangunan yang orderan-nya tidak pasti. Sedangkan Ibunya seorang Ibu rumahtangga sejati. Sudah jelas ada rintangan besar antara ibu dan impiannya, tidak adanya uang. Ibuku tidak menyerah, ia yakin akan ada jalan mewujudkan impiannya itu. Akhirnya, dari sekian banyak tes yang dia jalani, ia berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai ujiannya paling tinggi diantara peserta ujian lainnya. Ia ingin membuktikan bahwa uang bukanlah rintangan. Tapi, ia harus mencerna hukum yang berlaku di galaksi ini. Ketika harus membayar baju seragam, sepatu bidan, buku-buku, dan asrama, betul-betul tidak ada uang. Bahkan uang pinjaman yang cukup pun tak ada, meskipun pihak akademik telah memberi kemudahan. Ia gagal.
Novel - Pacar Empat Hari [Doeapoeloehsatoe]
[doeapoeloehsatoe] ‘Bert. Ntar jemput Aku di rumah ya’. Delivered to Gilbert. Lama sekali tak ada balasan. Telpon-ku barusan juga tidak diangkat. Padahal ponsel-nya aktif. Aku melucuti semua pakaianku, menelanjangi diri. Berdiri di depan cermin dengan latar belakang dinding yang kosong. Tiba-tiba sosok bertelanjang dada yang begitu manis berdiri dan memelukku dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di perutku, berbisik di telingaku.
Novel - Pacar Empat Hari [Doeapoeloeh]
[doeapoeloeh] Jam 7 malam. Entah kenapa kepalaku pusing. GILBERT. Ya, Gilbert. Orang yang paling ingin Aku temui saat ini. Tapi, mengapa rasanya begitu sulit. Dan kenapa Aku tiba-tiba menjadi sensitif. Aku membuka pintu kamarku. Bayangan sosok bertelanjang dada berkeliaran, menyentuh hampir setiap senti isi kamarku, dan Aku. Aku meletakkan tas di kursi komputer dan mengeluarkan ponsel. Ponsel-ku mati. What? Mati lagi? Sejak kapan? Aku langsung mengambil charger, lalu buru-buru ku-switch on. Tone Britney Spears - Everytime langsung berbunyi. 3 New Message(s). ‘Hei, Aku kan udah bilang, kalo kerja hape Aku matiin. Sekarang Aku baru mau pulang kantor’. SMS kedua: ‘Ntar malem, dinner mau nggak?’. SMS ketiga: ‘Aku telpon kok gak masuk-masuk? Hape-nya dimatiin ya? Kenapa? Kamu marah?’.
Novel - Pacar Empat Hari [Sembilanbelas]
[sembilanbelas] Akhirnya, selesai juga kuliah Embriologi yang membosankan. Aku melihat ke layar ponsel. Tidak ada sms yang masuk. Huh, tak ada yang mencintaiku. Bahkan sms yang kukirimkan ke Gilbert tadi pun masih pending. Aku sampai di komplek perumahan ketika semua lampu di jalan dan di rumah sudah dihidupkan. Mobil Cut Mona dan Tiara sudah terparkir rapi di garasi. “Un,...“, Tiara menyapaku. “Hai,...”, balas-ku datar, lalu menghempaskan tubuhku ke sofa. “Nonton apaan, Ra? Mona mana?”. “Sama cowok-nya”. “Ha? Dikamar?”, kepalaku berdiri. “Ya nggak lah, Un. Emangnya elo”, Ara tersenyum nakal. “Keluar sama mobil cowok-nya. Tau kemana, dari tadi pagi”. “Dari pagi? Gila. Nggak kuliah apa!”, Aku bangkit menuju lemari es, “Kinariosih kemana?”. “Dia dapet panggilan interview di Bogor. Dia kan Miss.Interview“.
Novel - Pacar Empat Hari [Delapanbelas]
[delapanbelas] “Yuk, buruan. Praktikum Parasitologi“. “Upz! Ohiya. Miss Charlie’s Angel”. Aku menyeruput Orange Juice-ku lebih cepat. Kami tergesa-gesa menuju Ruang Praktikum Departemen Parasitologi di lantai 3. Hampir seluruh peserta praktikum sudah memasuki ruangan dan serba-putih. Aku segera menempati meja sambil berusaha merapikan Jas Laboratorium-ku. Tiga detik kemudian pintu ditutup oleh salah seorang Miss Charlie’s Angel yang rada kekar. Artinya, tidak seorangpun peserta praktikum yang telat diizinkan masuk. Aku melirik Riri, 3 baris di belakangku. “OK! Selamat siang semuanya. Keluarkan kertas selembar. Kita quiz. Nomor satu,...”. Ha? Mampus gue! Gilbert!!! Help me!.
Novel - Pacar Empat Hari [Toedjoehbelas]
[toedjoehbelas] Setengah berlari Aku keluar dari ruang kuliah meninggalkan Riri yang masih mengomel karena ponselnya kubongkar. Seingatku, Aku punya mobile charger. Ternyata ada di kursi belakang, tertutup CD, kaos kaki, kertas-kertas, dan entah apalagi. Kamar dan mobil hampir tidak ada bedanya. Tiba-tiba ringtone Britney Spears – Everytime, di ponselku bunyi, tak lama setelah ponsulku dihidupkan kembali. Gilbert: ‘Aku kerja dulu ya, sayang. Mmmuuuaaaccchhh!!!’. Deg! Langsung melintas kejadian semalam. Aku merasakan mukaku memerah. Tok! Tok! Tok!. Seseorang mengetuk kaca disebelah kananku. “Lu kenapa senyum-senyum sendiri? Kantin yuk!”, Riri berdiri tinggi menjulang, berkacak pinggang pada tangan kirinya. Aku membuka kaca lebih lebar, “Gue lagi nge-cas hape, lo duluan deh”. “Muka lu kenapa? Merah gitu?”. Upz!!! Aku melihat ke kaca spion tengah. “Ng,... nggak pa-pa kok”. Riri melambaikan keempat jari tangan kanannya, lalu pergi. Aku melihat ke kaca spion tengah sekali lagi. Oh My God, mukaku benar-benar merah. Sms Gilbert lagi: ‘Bert, ntar sore bisa ketemuan nggak?’. Radio: “...dari lantai sembilan Gedung Mitra, inilah A Real Life 91.6 Indika FM, masih ada...”. Seek channel . “...AMKM bagian kedua siang hari ini. Anda Meminta Kami Memutar. Baiklah pendengar Sonora yang berbahagia dimanapun Anda berada,...”. Seek channel. Iklan Obat Maag. Seek channel. Lagu ‘Celine Dion – The New Day Has Come’ yang sudah sampai dibagian reff pertama. Sms-ku tidak dibalas. “Akhirnya datang juga,...”. “Kayak pembawa acara, deh lo”. “Waw. Tumben cuma orange juice. Kenapa lo! Bukannya tadi lo merrrraah?”. “Riri, berisik, aaah,...”. “Kenapa, Un?”, suara Riri berubah lembut. Sangat lembut. Itu yang Aku suka darinya. Dia selalu tahu kalau Aku serius punya masalah. Aku berusaha untuk tidak ketahuan, kalau mataku mulai berkaca-kaca. “Gilbert,...”, Aku mengedipkan mataku sebanyak mungkin, berusaha kelihatan tegar untuk menurunkan kelembaban di bola mata. “Siapa Gilbert Un?”, Riri menatap mataku dalam-dalam. He? Oh iya, Aku belum cerita soal Gilbert. Aku menyeruput orange juice-ku, sambil berpikir mau mulai dari mana. “Yang tadi sms bukan?”, Riri menyelesaikan lunch-nya. “Ng,... Iya”. “Pacar lo? Anak mana?”. Aku masih diam. “Un,... Perasaan gue nggak pernah denger deh yang namanya Gilbert di kampus”. “Iya. Dia bukan anak kedokteran. Dia udah gawe. Udah kerja!”. “Wuiiih! Hebat dong. Dapetnya Om-Om”. “GILA LU!!!”.
Novel - Pacar Empat Hari [Enambelas]
[enambelas] Mampus!!! Ponsel-ku low-batt. “Un,...”, suara dari seseorang yang duduk di belakangku, “Un, kenapa lo? Heboh sendiri”. Riri?! Ah, iya, RIRI. “Ri, pinjem hape lo bentar”. Riri ragu-ragu mengeluarkan ponselnya dari kotak pensil kain bergambar Sailormoon dalam versi unyil, “Buat apaan sih?”, dia masih menggenggam ponselnya erat-erat, seperti memegang balon. “Pinjem bentar”. “Buat apaan? Awas kalo buka-buka es-em-es. Awas!!!”. “$#^%&&*,... Enggaaakkk,... Buruan sini!!!”, Aku mengambil paksa dari tangannya. BRAAAKKK!!! Aku dan Riri kaget. Prof.Pontjo pasti melihat kami, dan memukul mejanya, dan pasti selanjutnya akan bilang ‘Jangan mengadakan kuliah sendiri di dalam kuliah’, dan selanjutnya,... “Ehm,... maaf,...”. Eh? Aku memberanikan diri untuk melihat ke posisi dimana Prof.Pontjo berdiri. Dia membungkuk, mengambil text-book-nya yang super tebal berbahasa Jerman, jatuh, “Terlalu dipinggir saya rasa,...”, dan melanjutkan kuliahnya lagi. Semua kembali berkonsentrasi. Begitupun Aku, berkonsentrasi mengganti sim-card di ponsel Riri dengan sim-card punyaku. Create A New Message: ‘Bert, lagi ngapain? Udah lunch belum? Jangan telat ya, ntar Kamu sakit’. Send to: +62814452378429. Delivered. Aku pura-pura memperhatikan kuliah Prof.Pontjo lagi, berharap tak berapa lama lagi sms-ku dibalas. Jam yang menempel sekitar 1 meter di atas kepala Prof.Pontjo dan whiteboard-nya itu membuyarkan lamunanku. Pukul 10.12 wib. Ada yang salah. Ralat: ‘Upz. Sorry. Nanya lunch-nya kecepetan. Hehehe. Maksudku, hm,... ohya, ciuman Kamu semalam hebat banget’. 1 menit. 5 menit. 25 menit. 50 menit. Tidak dibalas. Tiba-tiba ponsel yang kupegang bergetar. Aku sedikit kaget. Sepertinya sms-ku di balas. Tiga detik kemudian terdengar lagu ‘Kuch-Kuch Hota Hai’ dari ponsel yang kupegang. Seisi ruangan melihat kearahku, termasuk Prof.Pontjo dan Riri. Aku terdiam, tak tahu harus berbuat apa ketika dua ratus pasang mata melihat fokus padaku. Aku melihat ke arah Prof.Pontjo yang melihatku tanpa ekspresi. Tak lama matanya bergerak menyusuri dinding yang jauh di belakangku, “Baik. Kuliah Saya akhiri. Terima kasih atas PERHATIANNYA”, dia menatapku sekali lagi lalu menuju mejanya. Ruang kuliah langsung berubah ramai bahkan bising. Riri merampas ponselnya dari tanganku. “Kok nggak di-silent sih, Ri? Bukan salahku”. Sapto mendekatiku, “Acha-acha,... Nehi-nehi,... Hahaha,...”, dia berlalu. “Lagian selera musik lo,... eng,... SPESIAL”. “BERISIK!!!”, tegas Riri langsung membuka sms yang tadi masuk. ‘Kenapa nggak nanya dinner aja sekalian, sayang? Hehehe. Kamu ternyata perhatian ya. Eh, masa sih ciumanku hebat? Perasaan biasa aja deh. Ntar kalo lebih hot, Kamu bisa pingsan dong’. “Ciuman? Sayang?”.






